oleh: Hari (Manajer External Training Program L’Ayurveda)

Kemarin saat saya buka-buka foto di gallery smartphone saya, saya melihat foto saya bersama seorang klien. Dan saya teringat bahwa kisah ini sering saya bagikan di berbagai kesempatan pelatihan atau sharing. Ternyata saya belum pernah menuliskannya di blog ini, maka izinkan saya untuk berbagi di sini.

21 Agustus 2014, saya harus berangkat ke Bandung. Ada pelatihan untuk Kemenakertrans RI di Lembang yang harus saya isi. Dan kali itu saya juga dimintai tolong oleh seorang teman untuk membantu temannya di Bandung, seorang pengusaha sukses, yang bahkan sudah pernah muncul di Kick Andy. Sang pengusaha, yang tidak bisa saya sebutkan namanya di sini, ingin mempelajari teknik rileksasi, “mungkin sedang stress”, kata teman saya.

Singkat cerita, bertemulah saya dengan Kang Pengusaha tersebut. Saya bertanya mengapa ia ingin mempelajari teknik rileksasi. Kang Pengusaha pun menjelaskan kisahnya pada saya:

“Saya membangun bisnis dari nol, Mas. Dari awalnya bekerja pada orang lain, sampai akhirnya memutuskan untuk berbisnis sendiri. Dari cuma berdua dengan istri, sampai memiliki bisnis yang cukup besar. Sampai saya mendapatkan cukup materi dan produk-produk saya dipasarkan ke luar negeri.

“Namun di kala itu, tiba-tiba sesuatu terjadi. Tiba-tiba saya ditipu orang-orang yang saya percaya. Tiba-tiba para supplier saya mencurangi saya. Saya kehilangan sekian milyar rupiah dalam hitungan bulan. Saya pun gamang. Saya gelisah sampai tidak bisa tidur. Sampai-sampai saya memutuskan untuk menyepi ke pondok-pondok, ke makam-makam wali. Sekadar untuk menenangkan diri, berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan.

“Dan ajaibnya, saya bisa tidur walaupun tempat tidurnya tidak nyaman. Selama saat-saat itu, saya merasa tenang. Kemudian saya memutuskan untuk kembali bekerja. Tidak bisa selamanya saya tinggalkan pekerjaan karena tanggung jawab pada anak dan istri.

“Tapi saat saya kembali bekerja, saya kembali merasakan ketegangan lagi, saya gelisah lagi, kembali saya sulit tidur. Saya ingin menyepi lagi tetapi tidak mungkin saya lakukan karena kesibukan. Bagaimana caranya? Saya sering baca posting Iwan tentang aktivitas meditasinya, saya pikir mungkin ini bisa membantu saya.”

Setelah cerita itu, mulailah saya menjelaskan ringkas tentang stress dan rileksasi, tentang bagaimana meditasi untuk manajemen stress. Kemudian saya pandu untuk melakukan latihan Speedy Relaxation selama 20an menit. Setelah berlatih, saya bertanya bagaimana rasanya?

“Rileks, Mas. Sensasinya, ketenangan, kedamaian yang terasa tadi, sungguh mirip dengan sensasi yang saya rasakan kala saya menyepi dulu, Mas! Terima kasih! Enak sekali rasanya!”

Saya turut berbahagia untuk Kang Pengusaha. Sembari memberikan kenang-kenangan berupa buku Ananda’s Neo Self Empowerment karya Bapak Anand Krishna, saya pun meminta kenang-kenangan dari Kang Pengusaha sebelum saya harus pamit untuk mengisi pelatihan. Saya meminta foto bersama dan pelajaran hidupnya.

Saya bertanya: “Jadi setelah sekian panjang berusaha, apa makna kebahagiaan bagi Kang Pengusaha?”

Jawabannya sungguh menyentuh saya:

“Kebahagiaan bagi saya adalah hal yang sederhana, Mas. Saat saya bisa tidur tenang di malam hari bersama mereka yang saya cintai, Mas. Bukan nilai materi yang penting, Mas. Tapi ketenangan itu yang penting.

Jawaban tersebut mengingatkan saya pada kutipan dari sebuah buku:

Kunci kebahagiaan adalah kesadaran. Dengan kunci kesadaran itulah kita dapat membuka pintu batin dan menemukan inner peace dan contentment yang dimaksud. Ketenangan batin dan kepuasan itulah yang sesungguhnya membahagiakan manusia.” – Be Happy (Anand Krishna, 2008)

Saat saya menulis tulisan ini pada tahun 2016, sudah lebih dari 1 tahun berlalu sejak pertemuan saya dengan Kang Pengusaha. Saat ini Kang Pengusaha sedang menghadapi masa sulit dalam hidupnya. Semoga badai segera berlalu. Terima kasih atas pelajarannya, Kang Pengusaha. Pelajaran yang dia dapat setelah kehilangan sekian milyar rupiah dan tidak bisa tidur di malam hari selama berbulan-bulan.

Semoga bermanfaat!